Menjadi seorang entrepreneur sering kali
menjadi awal sebuah perjuangan seseorang anak muda dalam memperjuangkan
idealismenya dalam memanfaatkan peluang bisnis. Tidak selalu soal profit yang
besar, seorang entrepreneur muda juga berharap bisnis yang ia jalankan bisa
juga berguna bagi banyak orang, melalui produk hasil inovasinya.
Salah
satunya adalah Muhammad Ridho Indra, seorang entrepreneur muda yang bergerak di
bidang consumer goods.Melalui
produk berupa sabun cuci (deterjen), sabun tangan, pewangi dan pelembut
pakaian, hingga parfum, pria berusia 25 tahun ini coba menawarkan produk yang
ramah lingkungan.
Dengan
mengandalkan deterjen dengan merek “Super 45”, Edo–begitu ia biasa disapa–sudah
mulai meletakan brand awareness yang kuat dengan bekerjasama dengan lebih dari
500 laundry yang tersebar di seluruh nusantara. Selain itu, produk pembersih
yang dijalankan oleh pemuda asal Jakarta ini sudah mulai dipakai oleh beberapa
hotel dan rumah sakit besar di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Awal
menekuni bisnis ini, pria lulusan Teknik Industri UGM ini mengaku tertantang
untuk menjalankan sebuah bisnis yang berbeda dari bisnis lain pada umumnya.
Pada tahun 2009, ia pun berkenalan dengan seorang mahasiswa Unpad yang memiliki
formula untuk mengkreasikan sebuah sabun yang ramah lingkungan. Merasa
tertantang dan memiliki visi yang sama, Edo pun memutuskan untuk menjadi
rekanan dan ikut menjalankan bisnis tersebut bersama. Total bisnis ini kini dijalankan
oleh dua orang lain, selain Edo.
Menjalankan
bisnis consumer goods yang otomatis harus head to head
dengan beragam perusahaan besar berskala internasional, yang memiliki merek
yang sudah lama dikenal masyarakat, tak lantas membuat Edo dan kedua rekannya
ciut. Bahkan ia yakin, sebagai sebuah prodak lokal yang baru di pasaran,
sabunnya bisa bersaing dengan mengandalkan kualitas yang ramah lingkungan.
“Contohnya
detergen bubuk untuk mencuci baju. Sabun yang kami produksi tidak banyak
mengeluarkan busa hasil cuci. Hal itu menjadi penting karena busa sabun tidak
ramah terhadap lingkungan, terutama ditempat pembuangan sisa sabun. Dengan zat
aktif yang kami gunakan, produk kami bisa mereduksi busa sehingga mengurangi
efek buruk yang ditimbulkan oleh busa sabun terhadap lingkungan sekitar,” ujar
Edo kepada ciputraentrepreneurship.com, saat ditemui Senin (7/11), di Jakarta.
Tak
hanya ramah terhadap lingkungan, Edo pun yakin produknya akan lebih irit
dipakai, dan memberikan efek cuci yang maksimal. Sayangnya, belum banyak memang
yang mengetahui perihal sabun produksi Edo ini. “Selain terhadap lingkungan,
zat aktif yang kami gunakan juga akan membuat pakaian akan lebih nyaman
digunakan, dan akan menjaga kondisi mesin cuci yang kita pakai. Dengan
kelebihan tersebut, saya yakin produk kami bisa bersaing dengan sabun-sabun
lain yang tenar karena iklan TV,” ungkap Edo berpromosi.
Sebagai
produk lokal, Edo berharap kehadiran sabunnya bisa memberikan opsi yang lebih
cerdas kepada masyarakat, ditengah gempuran beragam prodak luar negeri yang
lebih mementingkan harga yang murah, dibandingkan kualitas cuci yang
bermanfaat.
“Dengan
menggunakan sabun kami, saya berharap akan terjadi multiply effect di masyarakat. Awalnya dengan
menggunakan sabun ini, orang akan melihat bahwa produk ini sangat irit
pemakaian dan sangat aman terhadap mesin cuci, jadi harapannya akan banyak
orang yang terjun ke bisnis laundry. Lalu, selain menjaga kondisi lingkungan
sekitar pembuangan limbah cuci, masyarakat juga bisa bisa lebih irit karena tak
harus sering beli baju,” kata Edo.
Menjalankan
bisnis consumer goods membuat Edo paham betul akan
pentingnya kepuasan pelanggan. Untuk itu, ia pun memiliki tim riset yang selalu
melakukan inovasi produk dan kerap melakukan survei kepuasan pelanggan. Selain itu,
Edo sadar bahwa produknya tidak akan bisa berhadapan langsung dengan perusahaan
bermodal besar, yang memiliki budget iklan yang juga besar. Untuk memperkuat
brand image di masyarakat, Edo pun memilih untuk menggandeng bisnis laundry
sebagai roda untuk menyebarkan brand
image produknya.
Hal itu juga dipilih agar tidak terlalu membebankan biaya produksinya.
“Karena
masih berskala kecil, jadi kami memproduksi sabun base on demand. Artinya saya harus tahu dulu pasar
saya, sebelum saya akhirnya saya menentukan kuantitas produk saya. Itu memang
saya lakukan untuk meminimalkan modal atau biaya produksi kami. Di lain pihak,
bekerja sama dengan bisnis laundry kami pilih menjadi jalan promosi bagi produk
kami juga. Pastinya, semua laundry akan memilih deterjen yang bagus, wangi,
irit, dan awet dipakai di mesin cuci. Jika produk kami dipercaya oleh mereka,
berarti produk kami memiliki kualitas yang tinggi,” terang Edo.
Untuk
memperkuat pondasi bisnisnya, Edo membuka kesempatan bagi calon mitra untuk
bekerjasama, baik sebagai rekan bisnis ataupun calon pemodal. Diharapkan,
dengan pilihan rekan bisnis yang sevisi akan membuka jalan bagi Edo dan
rekan-rekannya, untuk bersaing dengan raksasa-raksasa di bisnis consumer goods.
Source : http://jpmi.or.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar